Rasulullah SAW menjawab: "Itulah bulan yang manusia lalai darinya, antara Rajab dan Ramadhan. Dan ia adalah bulan di mana amal-amal diangkat kepada Rabb semesta alam. Maka aku ingin amalku diangkat saat aku sedang berpuasa." (HR. An-Nasa’i)
1. Filosofi Pemanasan: Menghilangkan Efek "Kaget" Spiritual
Ibarat seorang atlet yang akan bertanding di olimpiade besar (Ramadhan), ia tidak mungkin langsung bertanding tanpa pemanasan (warming up). Jika kita baru memulai tilawah, baru memulai bangun malam, dan baru mulai menahan lapar tepat pada 1 Ramadhan, maka fisik dan jiwa kita akan mengalami kegoncangan. Akibatnya, minggu pertama Ramadhan habis hanya untuk beradaptasi, bukan berakselerasi.
Ulama besar Abu Bakar Al-Balkhi memberikan perumpamaan yang sangat indah:"Bulan Rajab adalah bulan menanam benih, bulan Sya’ban adalah bulan menyirami tanaman, dan bulan Ramadhan adalah bulan memanen hasilnya."
Bagaimana mungkin kita berharap panen yang melimpah di bulan Ramadhan, jika di bulan Sya’ban kita malas menyirami tanaman iman kita? Tanpa persiapan di Sya'ban, Ramadhan hanya akan menjadi bulan menahan lapar dan dahaga tanpa rasa manisnya iman.
2. Sya’ban sebagai Bulan Audit Amal
Di bulan ini, seluruh rekam jejak kita selama setahun dilaporkan kepada Allah SWT. Ini adalah momentum untuk melakukan "pembersihan diri" sebelum memasuki istana Ramadhan yang suci.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hasyr ayat 18: "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)"
Jika kita tahu bahwa laporan tahunan kita sedang diangkat ke langit, bukankah kita ingin laporan itu ditutup dengan catatan yang indah? Para ulama terdahulu menjadikan Sya'ban sebagai waktu untuk memperbanyak istighfar dan membaca Al-Qur'an. Salamah bin Kuhail berkata: "Dahulu dikatakan bahwa bulan Sya’ban adalah bulan para pembaca Al-Qur’an (Syahrul Qurra)."
3. Meraih Kemenangan Hati: Membersihkan Dendam
Salah satu penghalang kemenangan di bulan Ramadhan adalah hati yang kotor. Rasulullah SAW bersabda mengenai malam Nisfu Sya’ban (Pertengahan Sya’ban): "Sesungguhnya Allah melihat pada malam Nisfu Sya’ban, maka Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya kecuali orang yang musyrik dan orang yang bermusuhan (pendendam)." (HR. Ibnu Majah)
Gerbang Ramadhan tidak akan terbuka bagi hati yang masih menyimpan bara kebencian kepada sesama muslim. Kemenangan sejati bermula dari hati yang lapang. Sya’ban adalah waktu untuk saling memaafkan, menyambung silaturahmi yang putus, dan membuang penyakit hasad.
Mari kita jadikan hari-hari tersisa di bulan Sya’ban ini sebagai ajang latihan.
1. Latihan Fisik: Mulailah berpuasa sunnah agar tubuh terbiasa.
2. Latihan Interaksi: Mulailah akrabkan kembali tangan kita memegang Mushaf Al-Qur'an.
2.Latihan Harta: Mulailah bersedekah secara rutin, meski sedikit, agar saat Ramadhan kita sudah menjadi dermawan.
Jangan biarkan Sya’ban berlalu begitu saja. Jangan biarkan kita termasuk golongan orang yang lalai. Jadikan bulan ini sebagai landasan pacu agar kita bisa "terbang" tinggi menggapai Lailatul Qadar di bulan depan.
Sebagai penutup, mari kita renungkan doa yang sering dipanjatkan oleh para salafus shalih:
"Allahumma barik lana fi Rajaba wa Sya’bana, wa ballighna Ramadhan."
(Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah usia kami pada bulan Ramadhan).
Doa ini bukan sekadar meminta umur panjang, tapi meminta agar kita diberi taufik untuk beramal saleh di bulan-bulan tersebut. Apa gunanya sampai ke Ramadhan jika kita tidak memiliki bekal spiritual yang cukup untuk menjalaninya?
Kemenangan melawan hawa nafsu di bulan Ramadhan ditentukan oleh seberapa serius kita menyiapkan diri di bulan Sya'ban ini. Mari kita memohon kepada Allah agar kita tidak termasuk orang yang merugi dan jadi pemenang di bulan Ramadhan.
Aamiin..amiin yaa rabbal alamiiin.
