Malam Nisfu Sya'ban, atau malam ke-15 di bulan Sya’ban, menempati posisi khusus dalam memori kolektif umat Islam, khususnya di Indonesia. Secara terminologi, Sya’ban merupakan bulan "jembatan" yang mempertemukan kerinduan hamba antara bulan Rajab dan bulan suci Ramadan. Nisfu Sya'ban sering dianggap sebagai momentum "pelaporan" amal tahunan sebelum memasuki fase penyucian diri di bulan Ramadan.
1. Landasan Hadis Nabi Muhammad SAW
Terdapat beberapa hadis yang membicarakan keutamaan malam ini. Salah satu yang paling masyhur dan dinilai sahih atau hasan oleh sebagian pakar hadis adalah:
إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ
Artinya: "Allah SWT melihat kepada makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban, lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan (mu-syahin)." (HR. Ibnu Hibban, Thabrani, dan Al-Baihaki)
Namun, perlu dicatat bahwa mayoritas hadis mengenai amalan spesifik (seperti tata cara shalat tertentu atau doa tertentu) pada malam ini sering kali menimbulkan perbedaan (khilafiyah).
2.Perbedaan Pendapat Para Ulama
Dunia keilmuan Islam melihat malam Nisfu Sya'ban dengan perspektif yang beragam, yang secara garis besar terbagi menjadi dua kelompok:
a. Kelompok yang Mengamalkan (Mendukung). Mayoritas ulama dari kalangan Tabi’in di Syam (seperti Khalid bin Ma’dan dan Makhul) serta sebagian ulama mazhab (terutama Syafi'iyah dan Hanabilah) berpendapat bahwa malam ini memiliki keutamaan.
- Alasan: Meskipun hadisnya secara individu lemah, namun karena jumlahnya banyak dan saling menguatkan, malam ini layak digunakan untuk meningkatkan ibadah secara individual.
- Tokoh: Imam Asy-Syafi'i (dalam kitab Al-Umm menyebutkan doa dikabulkan di lima malam, salah satunya Nisfu Sya’ban) dan Ibnu Taimiyah (yang mengakui adanya keutamaan malam tersebut berdasarkan riwayat-riwayat yang ada).
b. Kelompok yang Menolak. Sebagian ulama lain, terutama dari kalangan ulama Hijaz (Makkah dan Madinah), berpendapat bahwa tidak ada tuntunan khusus yang sahih dari Nabi SAW untuk merayakan malam tersebut.
- Alasan: Segala bentuk pengkhususan ibadah (seperti shalat berjamaah khusus atau perayaan tertentu) tanpa dalil yang sharih (jelas) dianggap sebagai bid'ah.
- Tokoh: Imam Malik bin Anas, Ata' bin Abi Rabah, serta ulama kontemporer seperti Syekh Bin Baz yang berpendapat bahwa menghidupkan malam tersebut dengan cara khusus tidak memiliki dasar yang kuat dalam Sunnah.
3. Amalan pada Malam Nisfu Sya'ban
Bagi mereka yang memilih untuk menghidupkan malam ini, para ulama menganjurkan amalan yang bersifat umum (tidak terikat tata cara yang mengada-ada), di antaranya:
- Memperbanyak Istighfar dan Doa: Mengingat esensi malam ini adalah pengampunan (maghfirah), maka memohon ampunan adalah inti utama.
- Membaca Al-Qur'an: Di Indonesia, lazim dilakukan pembacaan Surah Yasin sebanyak tiga kali dengan niat panjang umur, murah rezeki, dan tetap iman Islam. (Ini adalah ijtihad ulama lokal sebagai sarana berdzikir).
- Shalat Sunnah: Melakukan shalat sunnah pada malam hari (Tahajjud atau Witir) sebagaimana biasanya, Salat Sunnah Taubat, Salat Sunnah Tasbih serta salat sunnah lainnya.
- Puasa Nisfu Sya'ban: Melaksanakan puasa pada hari ke-15 Sya’ban, yang juga bertepatan dengan Ayyamul Bidh (puasa rutin pertengahan bulan).
- Menyambung Silaturahmi: Menghilangkan kebencian terhadap sesama, karena ampunan Allah tertahan bagi mereka yang sedang bermusuhan.
Kesimpulan
Malam Nisfu Sya'ban adalah momen refleksi diri. Terlepas dari perbedaan pendapat mengenai derajat kesahihan amalan khususnya, esensi untuk memohon ampunan dan mempersiapkan mental menuju Ramadan adalah hal yang positif. Kuncinya adalah menjalankan ibadah dengan penuh keikhlasan dan tetap menghormati perbedaan pendapat yang ada di tengah umat.
------(000)-----
