Beriman Kepada Rasul-Rasul Allah, SWT.
1. Pengertian Nabi dan Rasul
Menurut bahasa kata “nabi” berasal dari kata naba' yang artinya ditinggikan, atau dari kata na-ba-a artinya berita. Berdasarkan pengertian etimologis ini, Seorang Nabi adalah seseorang yang ditinggikan derajatnya oleh Allah swt. Dengan memberinya berita (wahyu). Adapun Rasul berasal dari kata ”ar-sa-la” artinya mengutus. Setelah mengalami perubahan bentuk menjadi “Rasul”, pengertiannya adalah “orang yang diutus”.
Dengan demikian, seorang Rasul adalah seorang yang diutus oleh Allah swt. untuk menyampaikan satu misi atau pesan (yakni ar-risalah).
Menurut Istilah, “Nabi dan Rasul” adalah manusia biasa, laki-laki yang dipilih oleh Allah swt. untuk menerima wahyu. Apabila tidak diiringi dengan kewajiban menyampaikannya atau membawa satu misi tertentu maka dia disebut Nabi. Namun, apabila diikuti dengan kewajiban menyampaikan atau membawa misi (ar-risalah) tentu dia disebut Rasul.
2. Iman Kepada Para Rasul Allah SWT
Beriman kepada rasul-rasul-Nya adalah rukun iman yang keempat, yaitu mempercayai bahwa Allah SWT, telah mengutus para rasul-Nya untuk membawa syi’’ar agama atau membimbing umat manusia kepada jalan yang benar dan diridhai Allah. Jumlah rasul tidak diketahui secara pasti, namun ada ulama yang mengatakan bahwa Allah SWT, telah menurunkan nabi sebanyak 124.000 orang dan rasul sebanyak 313 orang, dan jumlah ini pun belum dipastikan dan kemungkinan besar jumlahnya lebih banyak lagi. Hanya Allah SWT yang lebih mengetahuinya.
Dari sekian banyak jumlah rasul dan nabi tersebut hanya 25 orang yang disebutkan dalam Al-Quran, sehingga para rasul dan nabi yang wajib kita ketahui hanya 25 orang. Para nabi dan rasul tersebut adalah ;
1. Nabi Adam a.s
2. Nabi Idris a.s
3. Nabi Nuh a.s
4. Nabi Hud a.s
5. Nabi Soleh a.s
6. Nabi Ibrahim a.s
7. Nabi Luth a.s
8. Nabi Ismail a.s
9. Nabi Ishak a.s
10. Nabi Yaqub a.s
11. Nabi Yusuf a.s
12. Nabi Ayub a.s
13. Nabi Syueb a.s
14. Nabi Musa a.s
15. Nabi Harun a.s
16. Nabi Zulkiifli a.s
17. Nabi Daud a.s
18. Nabi Sulaiman a.s
19. Nabi Ilyas a.s
20. Nabi Ilyasa a.s
21. Nabi Yunus a.s
22. Nabi Zakaria a.s
23. Nabi Yahya a.s
24. Nabi Isa a.s
25. Nabi Muhammad SAW.
Allah SWT mewajibkan atas setiap orang yang beriman supaya beriman kepada semua rasul yang diutus-Nya tanpa membeda-bedakan antara satu rasul dan rasul lainnya.
Dalam hai ini Allah SWT berfirman :
قُوْلُوْٓا اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَمَآ اُنْزِلَ اِلَيْنَا وَمَآ اُنْزِلَ اِلٰٓى اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ وَالْاَسْبَاطِ وَمَآ اُوْتِيَ مُوْسٰى وَعِيْسٰى وَمَآ اُوْتِيَ النَّبِيُّوْنَ مِنْ رَّبِّهِمْۚ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْهُمْۖ وَنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ ١
Artinya :”Katakanlah (hai orang-orang mukmin), ‘Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan keppada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yaqub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepda nabi-nabi dan Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (QS Al-Baqarah [2] :136).
3. Fungsi Utama Para Rasul
Dalam bukunya An-Nubuwwah wal Anbiya’, Muhammad Ali Ash-Shabuni menyebuutkan tugas Rasul, yaitu sebagai berikut.
1.Mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah, Dzat yang Maha Esa lagi Maha perkasa. Ini merupakan tugas pokok sebagaimana ditegaskan dalam Al-Quran.
Artinya:” Dan kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya,’Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak), malainkan Aku maka sembahlah olehmu sekalian akan aku.” (Q.S An-Anbiya [21] : 25).
2. Menyampaikan perintah dan larangan Allah. Ditegaskan dalam Al-Quran :
Artinya :” (Yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan.” (Q.S Al-Ahzab [33] : 39).
3.Memberikan petunjuk pada jalan yang benar kepada manusia.Ditegaskan dalam Al-Quran :
Artinya:” Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk menjadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi.” (Q.S Al-Ahzab [33] : 45-46).
4. Menjadi panutan bagi setiap manusia. Diitegaskan oleh Allah ddalam firmannya :
Artinya :”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangannya) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Q.S Al-Ahzab [33]: 21).
5.Memberi peringatan tentang adanya hari kebangkitan dan tentang siksa yang berat sesudah mati.
6.Mengalihkan perhatian manusia dari kehidupan yang fana pada kehidupan yang kekal. Ditegaskan Allah dalam firman-Nya:
Artinya:” Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengatahui.” (Q.S Al-Ankabut [29] : 64).
7. Supaya tidak ada alasan lagi bagi manusia kelak dihadapan Allah. Ditegaskan dalam firmanya
Artinya:” (Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan Allah Maha perkasa lagi Maha bijaksana.” (Q.S An-Nisa’ [4] : 165)
Menurut Pendapat A. Hafizh Dasuki dalam Ensiklopedi Islam menyebutkan bahwa fungsi para rasul adalah sebagai berikut.
a. Mengajarkan tauhid dengan segala sifat-sifat-Nya;
b. Mengajak manusia agar hanya menyembah dan beribadah kepada Allah;
c. Mengajarkan kepada manusia agar memiliki moral atau akhlak yang mulia;
d. Memberikan petunjuk kepada jalan yang benar kepada manusia;
4. Rasul-Rasul Ulul Azmi
Ulul ‘Azmi artinya orang-orang yang teguh hati, tabah, sabar, mewujudkan segala cita-cita dengan segenap tenaga yang dimiliki, sedangkan para rasul yang diberikan gelar Ulul ‘Azmi adalah para rasul yang paling banyak mengalami penderitaan, tetapi mereka tetap teguh, tabah, sabar, dan terus berjuang hingga mereka berhasil mengemban tugas dari Allah, Swt.
Keberadaan rasul Ulul ‘Azmi itu disebutkan dalam Al-Quran sebagai berikut:
فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ اُولُوا الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِلْ لَّهُمْ
Artinya: Maka bersabarlah engkau (Muhammad) sebagaimana kesabaran rasul-rasul yang memiliki keteguhan hati dan janganlah engkau meminta agar azab disegerakan untuk mereka Q.S. Al-Ahqaf 35 ).
Diantara keduapuluh lima tersebut, ada yang disebut Ulul Azmi, yang artinya rasul-rasul yang mempunyai keteguhan hati yang tidak pernah goyah dan mempunyai ketabahan yang luar biasa, kesabaran yang tak ada batasnya. Nabi yang mendapat julukan Ulul Azmi adalah :
1. Nabi Nuh a.s
2. Nabi Ibrahim a.s
3. Nabi Musa, a.s.
4. Nabi Isa a.s
5. Nabi Muhammad SAW.
5. Sifat-Sifat Wajib Bagi Rasul
Sifat-sifat istimewa yang dimiliki para Rasul sebagai berikut.
a. Shiddiq artinya jujur, benar dalam segala ucapannya. Mustahil bersifat kidzib artinya dusta. Adapun dalil naqlinya ialah firman Allah SWT :
Artinya:”Dan kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi tinggi.” (Q.S Maryam [19] : 50).
b. Amanah artinya terpercaya. Mustahil bersifat khianat artinya curang. Dalil naqli bahwa Rasul itu dapat dipercaya yaitu firman Allah SWT :
Artinya:” Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka, ‘Mengapa kamu tidak bertakwa ?’ Sesungguhnya aku adalah seorang rasul yang kepercayaan (yang diutus) kepadamu.” (Q.S Asy-Syua’ra [26] : 106-107).
c. Tabligh artinya menyampaikan apa yang datang dari Allah. Mustahil kitman artinya tidak menyampaikan atau menyembunyikan. Dalil naqli yang menyatakan bahwa para rasul bersifat tabligh adalah sebagai berikut :
Artinya:” Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (Q.S Al-Maidah [5] : 67).
d. Fathanah artinya cerdas atau pandai. Mustahil baladah artinya bodoh atau dungu.[8] Dalil naqli yang menyatakan bahwa para rasul bersifat fathanah yaitu firman Allah SWT :
Artinya:” Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun) dan Kami mengetahui (keadaannya) Nya.” (Q.S Al-Anbiya’ [21] : 51).
Disamping mempunyai sifat yang wajib dan mustahil tersebut, para rasul pun mempunyai sifat ja’iz (wenang). Sifat ja’iz tersebut yaitu : Aradhul Basyariyah artinya sebagai nabi dan rasul, mereka mempunyai sifat-sifat yang umum dimiliki oleh manusia, asalkan sifat-sifat tersebut tidak dapat menyebabkan kemerrosotan derajat kerasulan, seperti makan, minum, lapar, haus, tidur, mencari nafkah, berumah tangga, sakit, dan sebagainya. Adapun dalil naqlinya adalah :
Artinya :”Dan kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan dipasar-pasar. Dan Kami jadikan sebagian kamu cobaan bagi sebagian yang lain. Mauukah kamu bersabar ? Dan adalah Tuhanmu Maha melihat.” (Q.S Al-Furqan [25] : 20)
6. Mukjizat
Mukjizat ialah sesuatu yang luar biasa diberikan Tuhan kepada para rasul untuk dijadikan alat memperkuat dakwah dan risalah yang dibawakannya. Banyak sekali dalam Al-Quran keterangan tentang mukjizat para nabi, mulai dari nabi Adam sampai nabi Muhammad saw. Oleh karena itu, umat Islam wajib memercayai keberadaan mukjizat tersebut. Disebutkan dalam kitab tauhid husunul hamidiyah, karangan Hasan bin Muhammad Al-Jazar, yang dikutip Sirajuddin, “mukjizat rasul-rasul diberikan Tuhan sesuai dengan keadaan zamannya. Mukjizat para rasul itu dapat mengatasi kepandaian orang pada masanya.
Berikut ini adalah nabi-nabi ulul azmi beserta mukzizatnya yang perlu diketahui.
a. Mukjizat Nabi Nuh, A.S.
Nabi Nuh bin Lamik bin Metusyalih dari keturunan Idris serta keturunan Nabi Syits bin Adam diperkirakan hidup pada tahun 3993-3043 SM dan diangkat menjadi Nabi pada tahun 3650 SM. Nabi Nuh AS diperkirakan tinggal di wilayah yang kini disebut sebagai Iraq. Para ahli sejarah banyak menyebutkan bahwa beliau wafat di Mekkah dan memiliki 4 anak laki-laki. Nama Nuh sendiri disebutkan sebanyak 43 kali dalam Al-Quran. Dalam kisah Nabi Nuh AS, disebutkan bahwa beliau memulai perjalanan dakwahnya sejak usia 40 tahun hingga usia 950 tahun. Beliau menyampaikan kebenaran kepada kaumnya agar kembali menyembah Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
Namun, dakwahnya tak pernah diterima oleh kaumnya. Nabi Nuh AS selalu dicemooh, bahkan dihina. Kesabaran Nabi Nuh AS juga diuji saat istri dan anaknya yang bernama Kan’an termasuk pada golongan orang-orang yang menentang dakwah Nabi Nuh AS.
Setelah berdakwah selama 950 tahun lamanya namun tidak ada yang mau mengikuti beliau kecuali beberapa orang saja, maka terpaksa Nabi Nuh AS memohon kepada Allah SWT dengan berdoa, sebagaimana disebut dalam Al-Qur an QS. Nuh ayat 26-27:
وَ قَالَ نُوۡحٌ رَّبِّ لَا تَذَرۡ عَلَى الۡاَرۡضِ مِنَ الۡكٰفِرِيۡنَ دَيَّارًا ٢٦
Artinya: “Dan Nuh berkata, ‘Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.”
Mukzizat Nabi Nuh AS turun saat Allah SWT menjawab dan memenuhi permintaan Nabi Nuh AS seraya memerintahkan agar beliau membuat bahtera atau perahu besar yang terbuat dari kayu. Bahtera tersebut bertujuan untuk membawa Nabi Nuh AS beserta hewan dan kaumnya yang beriman agar selamat dari azab banjir yang akan terjadi.
Ketika Nabi Nuh AS membuat bahtera, setiap orang yang lewat akan menertawakan dan mengejeknya karena membuat perahu di tanah dataran tinggi dianggap sebagai hal yang sia-sia saja.
Setelah selesai membuat perahu, datanglah azab Allah SWT berupa hujan lebat disertai angin topan yang dahsyat. Hujan tersebut dalam waktu singkat menjadikan dataran tempat tinggal Nabi Nuh AS terendam banjir besar yang menenggelamkan pemukiman beserta kaum kafir di dalamnya.
Sebelum banjir besar terjadi, Nabi Nuh AS mengajak orang-orang beriman beserta seluruh hewan untuk naik ke atas bahtera yang dibuatnya agar selamat dari banjir. Atas kuasa Allah SWT, Nabi Nuh AS beserta hewan dan orang-orang beriman berhasil naik ke kapal bahtera tanpa ada rintangan apapun dan selamat dari azab banjir.
b. Mukjizat Nabi Ibrahim, A.S.
Nabi Ibrahim bin Azar bin Nahur adalah seorang nabi dari keturunan Sam bin Nuh. Beliau diperkirakan hidup pada tahun 1997-1822 SM dan diangkat menjadi Nabi pada tahun 1900 SM. Beliau tinggal di wilayah yang saat ini dikenal sebagai Irak. Beliau wafat di Al-Khalil, Hebron, Palestina. Nama Ibrahim disebutkan sebanyak 69 kali dalam Al-Quran.
Dalam kisah Nabi Ibrahim, disebutkan bahwa sejak bayi, Nabi Ibrahim sudah diasingkan ke dalam gua karena adanya perintah dari Raja Namrud (raja yang berkuasa pada saat itu) untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang baru lahir.
Setelah dewasa, beliau menyampaikan dakwahnya dengan tidak mudah, karena harus berhadapan dengan Raja Namrud beserta seluruh masyarakat yang saat itu menyembah berhala, termasuk kedua orang tuanya sendiri. Bahkan, ayah Nabi Ibrahim AS berprofesi sebagai pembuat patung berhala.
Mukzizat Nabi Ibrahim yang pertama turun ketika beliau menghadapi Raja Namrud untuk menyampaikan dakwahnya. Raja Namrud yang gusar akibat patung berhalanya dihancurkan oleh Nabi Ibrahim kemudian menangkap Ibrahim dan berusaha membakarnya hidup-hidup. Namun, Allah SWT memberikan mukjizat kepada Nabi Ibrahim AS, yaitu api yang membakar tubuhnya menjadi dingin, sehingga tubuh beliau tidak terbakar oleh api.
Setelah kejadian tersebut, beratus tahun kemudian, dikisahkan bahwa Nabi Ibrahim telah hidup bahagia dan menikah dengan perempuan bernama Sarah. Namun, mereka berdua tidak kunjung dikaruniai anak meskipun sudah lama menikah. Sarah kemudian meminta Ibrahim untuk menikahi seorang budak bernama Hajar. Setelah menikah dengan Hajar, Ibrahim pun dikaruniai seorang anak yang diberi nama Ismail.
Setelah Ismail lahir, Ibrahim harus menerima perintah sulit dari Allah SWT yaitu melepas istri dan anaknya yang baru lahir dan sangat dicintainya itu ke tanah gersang di Makkah. Karena kesabaran dan kepatuhannya pada Allah SWT, perintah itu pun dilaksanakan.
Namun, bertahun-tahun kemudian, masih ada lagi perintah lebih berat yang harus diterima Ibrahim, yaitu harus mengorbankan Ismail yang pada saat itu baru berusia remaja. Hal ini pun beliau laksanakan atas kepatuhannya terhadap Allah. Melihat kepatuhannya tersebut, Allah SWT pun menurunkan mukjizat, yakni Ismail digantikan dengan seekor domba (kambing kibas), yang kemudian mendasari adanya Hari Raya Idul Adha bagi umat Muslim.
c. Mukjizat Nabi Musa, A.S.
Nabi Musa bin Imran berasal dari keturunan Ya’qub bin Ishak. Beliau diperkirakan hidup pada tahun 1527-1408 SM dan diangkat menjadi Nabi pada tahun 1450 SM. Beliau ditugaskan berdakwah kepada Bani Israel di Mesir yang pada saat itu dikuasai Raja Firaun. Beliau wafat di Tanah Tih dan mempunyai 2 orang anak.
Nabi Musa AS menjadi salah satu pemimpin yang mampu bersikap tegas. Beliau lahir di lingkungan istana Raja Firaun dan dibesarkan oleh istri Firaun yang bernama Siti Asiah. Allah SWT menurunkan wahyu pertama-Nya kepada Nabi Musa AS di Bukit Sinai. Di sinilah kisah Nabi Musa AS bersama saudaranya, Nabi Harun AS, memulai dakwah di hadapan Firaun yang mengakui dirinya sebagai Tuhan.
Namun, Firaun tidak pernah menerima dakwah tersebut, sehingga mereka berdua diusir dari istana. Sejak saat itu, Firaun mengumpulkan para ahli sihir untuk membunuh Nabi Musa AS. Lalu, mukzizat Nabi Musa datang kepadanya, di mana sebuah tongkat yang dibawa Nabi Musa AS dapat menjelma menjadi ular besar yang melahap ular-ular para penyihir Firaun. Firaun pun mengirimkan bala tentaranya untuk membunuh Nabi Musa AS.
Sampai pada akhirnya Nabi Musa bersama kaum Bani Israil berada di tepi lautan merah. Kemudian Allah SWT kembali turunkan mukjizat, yakni beliau diberi kemampuan untuk dapat membelah lautan tersebut dengan tongkat dan menyeberangi lautan untuk menghindar dari kejaran Firaun. Sementara Firaun beserta bala tentaranya tenggalam di Laut Merah.
d. Mukjizat Nabi Isa, A.S.
Nabi Isa bin Maryam binti Imran berasal dari keturunan Sulaiman bin Daud. Diperkirakan hidup pada tahun 1 SM-32M dan diangkat menjadi nabi pada tahun 29M. Beliau ditugaskan berdakwah kepada Bani Israil di Palestina. Beliau tidak wafat, melainkan diangkat ke sisi Allah SWT. Nabi Isa AS Disebutkan sebanyak 25 kali di dalam Al-Quran. Banyak hal yang menunjukkan bahwa Isa memiliki kesabaran dan keteguhan dalam menyampaikan ajaran Allah. Nabi Isa As merupakan putra dari Maryam yang dilahirkan tanpa seorang ayah atas kuasa Allah SWT. Karena itu, beliau dan Maryam mendapat cemooh dari penduduk kampung halamannya.
Allah SWT kemudian menurunkan mukjizat berupa kemampuan berbicara kepadanya saat masih bayi untuk membuktikan bahwa beliau memang lahir tanpa seorang ayah atas seizin Allah SWT. Mukzizat Nabi Isa AS lainnya selain kemampuan berbicara saat masih bayi, yaitu mampu menyembuhkan orang sakit, berjalan di atas air, dan menghidupkan orang mati atas seizin Allah SWT.
Allah SWT mengutusnya sebagai rasul di Bait Al-Maqdis setelah menginjak usia 30 tahun. Allah SWT juga mengajarkan kepadanya kitab Taurat dan menurunkan sebuah kitab yang diberi nama Injil.
Salah satu kisah Nabi Isa AS setelah dewasa, disebutkan saat beliau sedang menjalankan dakwahnya, beliau diancam dan direncanakan untuk dibunuh dengan cara disalib. Namun, Allah SWT menyelamatkan Nabi Isa AS dengan cara diangkat ke langit, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat An-Nisa ayat 157:
وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا ٱلْمَسِيحَ عِيسَى ٱبْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ ٱللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَٰكِن شُبِّهَ لَهُمْ ۚ وَإِنَّ ٱلَّذِينَ ٱخْتَلَفُوا۟ فِيهِ لَفِى شَكٍّ مِّنْهُ ۚ مَا لَهُم بِهِۦ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا ٱتِّبَاعَ ٱلظَّنِّ ۚ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًۢا
Artinya:
“Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.”
e. Mukjizat Nabi Muhammad, SAW.
Nabi Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muttalib berasal dari keturunan Ismail bin Ibrahim. Diperkirakan hidup pada tahun 571M-632M dan diangkat menjadi Nabi pada tahun 610M. Beliau ditugaskan berdakwah kepada seluruh manusia dan alam semesta. Semasa hidupnya, Nabi Muhammad SAW tinggal di Mekkah dan Madinah, kemudian wafat di Madinah dan meninggalkan 7 orang anak. Nabi Muhammad SAW disebutkan namanya sebanyak 5 kali di dalam Al-Quran. Kisah Nabi Muhammad menyebutkan bahwa beliau mendapat gelar ulul azmi karena sejak kecil sampai dewasa, beliau selalu mengalami masa-masa sulit. Pada usia 6 tahun, Rasulullah SAW sudah menjadi yatim piatu. Setelah dewasa, beliau harus membantu pamannya yang telah merawatnya sejak kecil. Tantangan terberat yang pernah dihadapi Rasulullah SAW adalah setelah diangkatnya beliau menjadi seorang rasul.
Ketika berdakwah, penentangan tidak hanya datang dari masyarakat luas, tetapi juga dari Abu Lahab yang juga merupakan pamannya. Rasulullah SAW juga harus menderita tatkala Bani Hasyim diboikot (diasingkan) ke sebuah lembah akibat dakwah yang dilakukan.
Selain itu, masih banyak lagi kesabaran dan masa masa-masa sulit yang dihadapi Nabi Muhammad SAW hingga beliau wafat. Mukzizat Nabi Muhammad yang terbesar adalah kitab suci Al-Qur’an, yang hingga kini dijadikan sebagai pedoman hidup bagi seluruh umat Muslim di dunia karena terjamin kebenarannya.
Pada zaman Nabi Muhammad saw., banyak orang yang mahir berpidato, mengarang, berpuisi, bersajak, dan bersyair. Oleh karena itu, kepada Nabi Muhammad saw., Tuhan memberikan suatu mukjizat ilmiah yaitu kitab suci Al-Quran, yang tidak bisa di karang serupa dengannya oleh para ahli-ahli pidato atau ahli-ahli “karang mengarang”. Sebenarnya banyak sekali mukjizat yang diberikan kepada nabi Muhammad saw., tetapi yang terbesar ialah Al-Quran, kitab suci yang tiada taranya diatas dunia kitab suci yang kedalamannya lebih dalam daripada laut dan luasnya melebihi luas padang sahara.
Seluruh ahli pidato, ahli mengarang, ahli sajak, ahli puisi, dan ahli kesastraan, kalau mereka menyelidiki dengan teliti dan menilai seikhlas-ikhlasnya, niscaya akan kagum dan ketika itu akan beriman bahwa Al-Quran adalah suatu kitab yang bukan merupakan susunan manusia, bukan buatan tangan manusia yang pandai-pandai, tetapi kitab yang diturunkan oleh Tuhan semesta alam yang tidak satu manusia pun sanggup untuk membuat yang serupa dengannya.
Firman Allah swt. Q.S. Al-Isra[17]: 88:
قُل لَّئِنِ ٱجْتَمَعَتِ ٱلْإِنسُ وَٱلْجِنُّ عَلَىٰٓ أَن يَأْتُوا۟ بِمِثْلِ هَٰذَا ٱلْقُرْءَانِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِۦ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا
Terjemahnya: “Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain"
Semoga bermanfaat..😊😊




