Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
"Berlayar Perahu Kepulau Seribu
"Singgah Sebentar Membeli Tembaga
"Selamat Datang Bapak dan Ibu
"Wajahnya Cerah Calon Penghuni Surga
Alhamdulillāhi rabbil 'ālamīn, wash-shalātu was-salāmu 'alā asyrafil anbiyā’i wal mursalīn, wa 'alā ālihī wa shahbihī ajma'īn. Ammā ba'du.
Jamaah yang dirahmati Allah, yang hadir di tempat ini wajarnya terlihat tampan, cantik, dan penuh wibawa. Tapi kalau di tengah musim yang penuh ketidakpastian ini wajahnya masih kelihatan cemberut, mungkin tabungannya lagi krisis, atau jemurannya tadi belum diangkat pas hujan turun tiba-tiba.
Hari ini kita berkumpul dalam majelis yang insya-Allah penuh berkah untuk memperingati hari kelahiran sosok paling mulia di muka bumi: Nabi Muhammad SAW.
Namun, peringatan Maulid Nabi tahun ini terasa amat spesial sekaligus menjadi momen perenungan yang dalam. Di satu sisi kita bersukacita merayakan kelahiran beliau, di sisi lain bangsa kita sedang diuji dengan serangkaian fenomena alam, cuaca ekstrem, hingga potensi badai bencana di berbagai daerah. Lingkungan hidup kita makin megap-megap, banjir di mana-mana, tanah longsor, hingga suhu udara yang makin panas—yang bikin pendingin ruangan di rumah kita angkat tangan.
Oleh karena itu, tema besar ceramah kita hari ini adalah: "Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW: Momentum Refleksi di Tengah Badai Bencana Nasional dan Kepedulian Lingkungan".
1. Nabi Muhammad SAW sebagai Rahmatan lil 'Ālamīn
Ketika Allah utus Nabi Muhammad SAW, gelar yang diberikan kepadanya bukan hanya rahmat untuk bangsa Arab, bukan hanya untuk kaum muslimin, melainkan untuk seluruh alam ('ālamīn). Termasuk di dalamnya tumbuh-tumbuhan, hewan, sungai, gunung, dan ekosistem bumi yang kita pijak saat ini.
Dalil Al-Qur'an
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Anbiyā’ (21): 107:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
"Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam."
Gelar Rahmatan lil 'Ālamīn ini bukan sekadar piala atau pajangan dinding. Kalau kita mengaku cinta Rasulullah, cinta itu harus berdampak sampai ke alam lingkungan sekitar kita. Bukan cuma rajin shalawat di majelis, tapi begitu keluar dari masjid, botol plastik minuman dilempar begitu saja ke dalam got. Nah, ini namanya shalawatnya connect, tapi kepedulian lingkungannya disconnected!
2. Bencana Alam: Antara Teguran, Dosa Manusia, dan Hukum Alam
Sering kali kalau ada banjir, longsor, atau cuaca ekstrem, kita sibuk saling tuduh atau hanya menyalahkan takdir. Padahal, jauh-jauh hari Al-Qur'an sudah memberikan diagnosis yang sangat rinci mengenai penyebab timbulnya kerusakan di bumi.
Dalil Al-Qur'an tentang Kerusakan Lingkungan
Allah SWT berfirman dalam QS. Ar-Rūm (30): 41:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."
Perhatikan kalimatnya: “disebabkan karena perbuatan tangan manusia”.
Bumi ini aslinya dirancang Allah dengan sangat presisi. Gunung sebagai pasak, hutan sebagai penyerap air, sungai sebagai saluran alami. Tapi manusia sering kali bertindak tamak: pohon ditebangi tanpa reboisasi, sungai dijadikan tempat pembuangan sampah raksasa, dan bukit dikepras demi perumahan tanpa memikirkan resapan. Begitu banjir datang, yang disalahkan malah hujan. Hujan bilang: "Lho, saya kan cuma turun menjalankan perintah Allah, kok saya yang dituding?"
3. Fikih Ekologi: Teladan Rasulullah SAW dalam Menjaga Lingkungan
Tahukah jamaah sekalian, bahwa Rasulullah SAW adalah pelopor Karakter Ramah Lingkungan (Green Prophet) pertama di dunia? Beliau bukan hanya mengajarkan ibadah ritual seperti shalat dan puasa, tetapi juga melarang keras pengrusakan alam.
A. Pelarangan Boros Air Saat Wudhu
Dari Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash RA, Rasulullah SAW berjalan melewati Sa'ad bin Abi Waqqas RA yang sedang berwudhu. Lalu Nabi bersabda: "Mengapa berlebih-lebihan ini, wahai Sa'ad?" Sa'ad bertanya, "Apakah dalam wudhu ada sikap berlebih-lebihan?" Beliau menjawab, "Ya, meskipun engkau berada di sungai yang mengalir."( HR. Ibn Majah (No. 425)
Lihat! Di sungai yang airnya melimpah saja tidak boleh boros air, apalagi kita yang pakai air PDAM yang meterannya muter terus tiap bulan!
B. Larangan Mengotori Fasilitas Umum dan Tempat Berteduh
Rasulullah SAW mengingatkan bahaya membuang hajat atau sampah di sembarang tempat:"Takutlah kalian terhadap dua perbuatan yang memancing kutukan!" Para sahabat bertanya, "Apakah dua perbuatan itu, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Orang yang membuang hajat di jalan umum manusia atau di tempat berteduh mereka." (HR. Muslim (No. 269)
Kalau membuang hajat di tempat umum saja mengundang kutukan, bagaimana dengan orang yang membuang sampah ber-kuintal-kuintal ke sungai sampai bikin mampet saluran dan memicu banjir nasional? Itu jelas kezaliman ekologis yang sangat besar.
3. Gerakan Reboisasi dan Penanaman Pohon
Rasulullah SAW sangat mendorong umatnya untuk menanam pohon. Beliau bersabda:
"Tidaklah seorang muslim menanam pohon atau menanam tanaman, lalu burung, manusia, atau hewan memakan darinya, melainkan itu menjadi sedekah baginya."(HR. Bukhari (No. 2320).
4. Pandangan Para Ulama tentang Kelestarian Lingkungan
Imam An-Nawawi dalam kitab Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim menjelaskan bahwa menanam pohon dan menjaga kelestarian lingkungan termasuk dalam bentuk sedekah yang pahalanya terus mengalir (jāriyah), bahkan setelah orang tersebut meninggal dunia, selama pohon itu memberi manfaat bagi makhluk lain.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menegaskan dalam kitab Al-Hisbah bahwa pemerintah dan masyarakat wajib mencegah tindakan pengerusakan fasilitas umum dan lingkungan, karena menjaga kemaslahatan publik (maṣlaḥah 'āmmah) lebih didahulukan daripada keuntungan individu (maṣlaḥah khāṣṣah).
5. Kisah Inspiratif: Sahabat Abu Ayyub Al-Anshari dan Pohon Kurma
Diriwayatkan dalam pelbagai kitab sejarah, ada seorang sahabat yang sudah sangat tua, usianya mendekati akhir hayat. Namun, di bawah terik matahari yang menyengat, beliau masih sibuk mencangkul tanah dan menanam bibit pohon kurma.
Seseorang lewat dan bertanya heran, "Wahai sahabat Rasulullah, engkau sudah tua renta. Pohon kurma ini baru berbuah belasan atau puluhan tahun lagi. Untuk apa engkau bersusah payah menanamnya, sementara engkau mungkin tidak akan sempat menikmati buahnya?"
Sahabat tersebut tersenyum tenang dan menjawab:"Orang-orang sebelum kita telah menanam pohon, dan kita telah menikmati buahnya hari ini. Maka, aku menanam pohon hari ini agar generasi setelahku dapat menikmati buahnya kelak. Aku tidak mencari buahnya, aku mencari pahala dari Allah SWT."
Subhanallah! Sungguh visi lingkungan yang sangat futuristik dan penuh dengan keikhlasan.
6. Momen Maulid: Hubungan dengan Kehidupan Sehari-hari
Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di tengah badai bencana alam dan krisis lingkungan harus ditransformasikan menjadi tindakan nyata, bukan sekadar acara ceremonial semata:
- Jadikan Kebersihan Sebagai Karakter Ibadah: Mulai dari hal kecil di rumah masing-masing. Jangan biarkan selokan di depan rumah tersumbat sampah. Kurangi penggunaan plastik sekali pakai. Saat menghadiri acara Maulid di masjid, pastikan tempat duduk kita bersih kembali sebelum pulang.
- Eko-Sedekah (Sedekah Hijau): Jika biasanya kita sedekah berupa uang atau makanan, coba sesekali buat gerakan "Sedekah Pohon". Momen Maulid bisa diisi dengan pembagian bibit pohon produktif kepada jamaah untuk ditanam di pekarangan rumah.
- Peka Terhadap Korban Bencana: Meneladani sifat empati Rasulullah SAW. Saat saudara-saudara kita terkena musibah banjir atau longsor di pelbagai daerah, ulurkan bantuan terbaik—baik berupa doa, pakaian layak, obat-obatan, maupun donasi finansial.
Kesimpulan
1. Nabi Muhammad SAW adalah Teladan Ekologi: Peringatan Maulid Nabi harus menyadarkan kita bahwa meneladani Rasulullah juga berarti menyayangi dan merawat lingkungan hidup.
2. Bencana Adalah Alarm Sinyal: Kerusakan alam tidak terjadi begitu saja, melainkan dampak dari ketamakan dan kelalaian tangan manusia.
3. Aksi Nyata Membutuhkan Komitmen: Bukti cinta kepada Nabi Muhammad SAW di era modern adalah dengan menjadi agen perubahan yang menjaga kebersihan, menghemat air, menanam pohon, dan membantu sesama yang tertimpa musibah.
Demikian yang dapat kami sampaikan
" Beli pepaya di Pasar Palmerah
"Jangan lupa membeli kain batik
"Cukup sekian isi ceramah
"Semoga lingkungan kita makin baik.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Referensi Rujukan
- Al-Qur'an al-Karim
2. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī — Imam Al-Bukhari
3. Ṣaḥīḥ Muslim — Imam Muslim
4. Sunan Ibn Mājah — Imam Ibn Majah
5. Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim — Imam An-Nawawi
6. Kitab Al-Ḥisbah fil Islām — Ibnu Taimiyah.
